Total Tayangan Halaman

Jumat, 16 November 2018

Di ujung pekan

Untuk yang kucinta
Meski ku tak yakin engkau pernah ada
Entah engkau hanya imaji belaka
Atau benar sayangmu dulu nyata

Kemarin aku merapal benci
Berhari lalu aku termenung sepi
Setiap ceritamu kubalas kelu
Tak lagi semangat kutanggapi seperti dulu

Untuk yang kurindu
Hari ini masih namamu
yang kuucapkan di akhir solatku
doa terbaik untukmu

Kamis, 15 November 2018

Tinggal

29 November 2016
"Welcome to Sangatta", katanya.
Yang membuatku hingga kini masih merapalkan, "Apa rencana-Mu?"

Merantau ke pulau seberang dengan kepercayaan diri tidak akan sendirian, aku berangkat bersama teman perempuan se-almamater, menuju tempat temanku yang sudah kukenal sejak masa putih biru. Bagaimana bisa aku merasa sendirian?

Ternyata bisa.
Desember 2017 teman perempuanku pergi tanpa kabar. Ikut suami, kata orang-orang, ke negeri seberang. Meninggalkan aku, teman kosannya yang bahkan tau kabar pernikahannya belakangan.
Maret 2018 temanku yang kukenal sejak kecil, tiba-tiba pulang tanpa pesan. Kunanti kembalinya yang tak pernah kejadian. Hingga enam bulan kemudian baru berani kulontarkan tanya, "sudah selesai", jawabnya.

Kini, sendiri aku tinggal.
Yang lain meninggalkan.

Setidak layak itukah aku diberi penjelasan?


Senin, 11 Agustus 2014

Partner of Life

Hari itu, pagi sebelum berangkat kuliah, jarang-jarang melirik surat kabar. Mengintip rubrik yang kuimpikan suatu hari ada aku di situ sebagai profil ulasan, Sosialita.
Di kolom data pribadi sang profil, ada kolom nama suami. Yang menarik, sang suami dideskripsikan sebagai Life's Partner.

Lagi, teringat gambar ini

I'm looking for mine. Seseorang yang bisa menerima dan menangani sisi gelap saya sebagai suatu anugerah alih-alih malapetaka.

Kemudian teringat kembali wejangan dari Princess Kamar Nomor 7, Widiamarta Putri, yang berujar, "gue lebih milih orang yang bisa gue ajak obrolin banyak hal, ngalor ngidul becanda daripada sekedar orang yg dengan kaku lu ajak ngobrol karena lu terlalu hormat sama dia."

Belum lagi saat ini malah teralihfokuskan oleh romansa antara Mba Hanum dan Mas Rangga dalam petualangannya di ranah adidaya, Amerika. Sang suami dengan penuh sabar dan kejutan tiada henti menemani sang istri yang katanya tak bisa ia tinggal sendiri. Siapa yang tak iri?

Tapi tetap, berpaku pada sebuah alasan dalam memilih pasangan yang tertuang dalam e-novel yang dikirim seorang teman. Tentang seorang muslimah yang membuat keputusan menghampiri sang ikhwan pujaan. Dipilih bukan sekedar rupa sebagai alasan melainkan nuraninya mantap putuskan sang ikhwan lah penuntunnya menapaki jalan Tuhan.

Maka, inikah jawaban? Atas sebuah pertanyaan dari seorang teman beberapa hari silam, "apa yg diinginkan seorang perempuan dari lelaki?"
Jawabanku: he should be her partner of life.

Bandung, 30 Juli 2014
Lebaran hari ke-3
9:43pm
Ketika obrolan seputar pasangan berseliweran.

Kamis, 10 April 2014

Balapan Tanpa Persaingan

Aku seperti melihat sebuah balapan tanpa persaingan
Saat mereka mulai meluncur cepat padahal awalnya tertahan pada suatu kisi
Banyak yang kembali terhenti tapi tak sedikit pula yg terus bergulir hingga ke dasar
Berjumpa dan kumpul kembali dalam sebuah genangan
Basah
Dingin
SNN PDB makin tak kuperhatikan
Gemericik ini lebih mengundang perhatian
Seperti air terjun kata seorang teman di belakang
Kami menikmati ini
Setelah panas terik menyelimuti jakarta barang sepekan
Kami merindukan ini
Atau bahkan justru kami resah akan banjir yg bisa saja datang
Tapi yg jelas gemericik ini merdu
Kami menikmati ini

SNN PDB semakin tak diperhatikan

Pada air yang membasahi tembok luar Gedung 1 STIS

Rabu, 09 April 2014

Pemilih Cerdas

Assalamu'alaykum
Emm... bisa agak serius nih isi postingan kali ini.
Dimulai dari obrolan via LINE dengan Mia malam ini. Tentang masyarakat yang menyatakan masuk ke dalam golongan putih yang jauh dari konotasi suci (sebentar, jgn dulu men-judge saya mengkambinghitamkan para pemegang hak suara yg kelingkingnya tak bertinta malam ini).

Hari ini, Kamis, 9 April 2014 diselenggarakan Pesta Demokrasi 5 tahunan di negeri kita tercinta ini. Pemilu Legislatif. Pertama kalinya bagi saya dan segenap rekan sejawat. Para pemilih pemula seperti kami inilah sasaran empuk dibebaninya amanah utk 'mempersiapkan' nasib bangsa dan negara 5 tahun ke depan. Gimana cara mempersiapkannya? Ga harus dengan mencalonkan diri kok. Ga harus terjun langsung memperbaiki negara yang katanya bobrok ini karena sepertinya kami emang belum siap. Para pemilih pemula seperti saya mendapatkan hak utk memilih para calon yg diharapkan amanah utk perbaiki negara yang katanya bobrok ini. Hak lho ya. Kapan lagi diberi keistimewaan seperti ini: memilih calon legislatif tuk bisa mengatasi negeri 5 tahun ke depan.

"Aduh, ngapain lah milih mereka yang ga jelas. Nanti pada korupsi."
Bagaimana caranya agar mereka jadi jelas di mata kita sbg pemilih? Tentu kita sendirilah yang harus mengenal mereka. Kan ada masa kampanye, masa mereka mengenalkan diri pada kita . Pengenalan dirinya kurang? Gadget di tanganmu sepertinya cukup canggih utk mengakses biografi para calon.

"Ga sempatlah itu kepoin mereka."
Oke oke, jujur saya juga ga banyak sempatkan diri utk mengenali para caleg. Tp kita masing-masing punya orang yg kita percaya utk konsultasi kan? Orang yg sudah berpengalaman tentu saja. Siapa lagi kalau bukan orang tua sendiri. Jujur, sbg pemilih pemula, pilihan saya bnyak dipengaruhi oleh opini orngtua. Karena ya kalau emang kita g percaya lagi dengan opini publik, masa' kita ga percaya sama orang tua kita sendiri?

"Weey ortu gue golput!! Mau ape lo? Gapapa dong gue ikutan. Gue kan percaya ortu gue"
Wah sayang ya, keistimewaan teman-teman dan ortu bs melayang begitu saja sbg pemilih kalau emang memutuskan sekeluarga utk golput. Sekali lagi, menjadi pemilih itu merupakan keistimewaan. Di tangan kita lah negeri ini menumpukan harapannya. Menjadikan negeri ini lebih baik tidak bisa dgn berdiam diri. Kalau kita yang baik pada diam, yang kurang baiklah yang akan berkuasa. Jadilah negeri ini diatur oleh mereka yang memang kurang bs dipercaya. Muncullah korupsi dan kawan-kawannya. Ngeri juga kan kalau udah kaya gitu.

"Yauda sih. Cuma gue doang yg ga milib. 1 suara doang"
1 orang berpikiran seperi itu, maka hilang 1 suara, maka bisa jadi 1 org yg kurang bs dipercaya lah yg lebih berkesempatan memimpin negeri.
Masalahnya, yg berpikran seperti itu kan banyaaak. Ga kamu doang. Ngeri lah ya.

Last, hancurnya keadaan bukan karena bertindaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.

Yak. Ditunggu kelingking ungu nya di pemilihan mendatang :D inshaa ALLAH pilihan kita yang terbaik kalau kita mengupayakan menjadi pemilih cerdas.

Salam #JariuntukIndonesia

Selasa, 11 Maret 2014

Jatuh Cinta Lagi

Perasaan ini muncul pada April 2010. Ketika aku masih berseragam putih abu.
Perjalanan melelahkan bolak balik Bogor-Jakarta kota masing-masing 2 jam nyatanya membuatku jatuh hati. Meski buruk kesan pertama yang kudapati.

4 tahun kemudian, saat ini, aku kembali.

Duduk menunggu giliran perjalanan dengan hanya sepi menemani. Berlalu lalang orang di sekitar, maklum, jam pulang kerja. Begitu setiap hari. Arus Jakarta Bogor padat di petang hingga malam hari. Seperti saat ini.
Aku termasuk satu di antara ribuan pejuang ibu kota ini. Sempat kuhitung selama menunggu, sudah ada sekitar 7 rangkaian kereta melintas di jalur 2 Stasiun Tebet dalam 30 menit ku menunggu. 1 rangkaian terdiri dari 8 gerbong kereta. Tiap gerbong mampu menampung .... penumpang tanpa space. Then, there are should be ... passangers in 30 minutes. Yeah I'm a math geek.

Petang hari, stasiun pasti dipenuhi orang orang yg hendak pulang sudahi jerih payahnya menguras keringat sepanjang hari. Semua orang, terburu buru menuju peron 1 demi mengejar kereta tumpangannya agar segera tiba di rumah. Semua orang berebut masuk gerbong tiap kali ada rangkaian kereta datang. Ini yg seringkali membuat saya malas pulang ke Bogor di malam hari: bersaing dengan para pejuang ibu kota. Tapi sesuatu mengharuskan saya tiba di Bogor sebelum hari berganti. Alhasil, saya rela menunggu bermenit menit dengan harapan bisa menumpang di gerbong kereta yg relatif sepi.

Petang hari, peron 1 stasiun Tebet (stasiun pemberhentian manapun sepanjang rute menuju Bogor) pasti dipenuhi penumpang. Sementara peron 2 , tempat para penumpang menunggu kereta Bogor-Jakarta relatif sepi. Karena ya itu tadi, kebanyakan penumpang adalah perantau ibu kota yg berasal dari daerah penyangga seperti Bogor dan Depok.

Petang hari, dalam 2 tahun terakhir ini, saya termasuk penumpang yang selalu menunggu rangkaian kereta di peron 1 itu tadi. Biasanya saya menunggu sampai 3 rangkaian kereta. Rangkaian pertama, penuh. Rangkaian kedua, penuh bingiit. Rangkaian ketiga, ya lumayan, bisa berdiri.

Pengalaman 2 tahun saya kira cukup utk memahami riuh pikuk moda transportasi masal yang satu ini. Tapi seperti sebuah pepatah, "Semakin banyak tahu semakin banyak tidak tahu". Malam ini saya ditunjuki sesuatu. Sebuah fenomena yg membuat saya semakin jatuh hati.

Setelah hampir 1 jam menunggu dan melihat orang orang selalu menuju peron satu, saya dibuat bingung oleh penampakan ratusan orang yg berebut menuju peron 2 sambil berkata, "Balik itu balik." penumpang yg baru memasuki stasiun ataupun penumpang yang sudah menunggu di peron 1, mayoritas menuju peron 2. Saya bingung. Tapi saya stay cool.

"Hati hati di jalur 1 akan segera masuk commuterline tujuan akhir Stasiun Manggarai yang akan kembali menjadi Rangkaian Bogor."
"Sekali lagi, kepada para penumpang, hati-hati di jalur 1 akan segera masuk commuterline tujuan akhir Stasiun Manggarai yang akan kembali menjadi Rangkaian Bogor."

setelah pengumuman itu, semakin banyak penumpang menuju peron 1. Saya mikir. Tapi tetep stay cool.
Ketika commuterline yg dimaksud memasuki jalur 1 Stasiun Tebet, saya sadar. Saya ini amatir ternyata. Ngakunya anker (anak kereta) tapi gatau apa-apa. 2 tahun bergelut dgn kereta, ternyata belum cukup tuk bs pahami transportasi massal yg keren ini.

Jadi, kalo mau ke Bogor dari Tebet harusnya kan penumpang nunggu di peron 2 krn rute di jalur 2 itu Stasiun Tebet-Cawang-Kalibata-.....-Bogor. Sementara utk rute di jalur 1, setelah Stasiun Tebet itu Stasiun Manggarai-Cikini-...-Jakarta. Nah, utk si commuterline yg 'balik' ini, dia khusus sampe Manggarai aja. Kemudian rangkaian kereta akan langsung 'mundur' kembali menuju Bogor. Kereta di jalur 1 kan sepi banget. Leluasa bgt kalo mau duduk. Alhasil, penumpang tujuan Bogor lari ngejar kereta itu ke peron 1 biar bs duduk. Gapapa ke Manggarai dulu, toh nanti langsung balik lagi jadi arah Bogor.



Benar saja, ratusan orang yang tadi berpindah peron itu akhirnya berhasil duduk nyaman di rangkaian kereta yg baru tiba di jalur 1. Sementara saya masih anteng nunggu kereta Bogor di Jalur 2.

Yaudah gapapa, mungkin malam ini akan seperti 4 tahun silam. Seperti saat pertama kali menumpangi commuterline Jakarta-Bogor di petang hari April 2010 (saat itu namanya masih KRL Ekonomi AC). Berdiri berdesakkan bahkan membuat diri tetap di tempat meski kaki melayang. Serius, kaki saya sempat tidak menapak ke lantai kereta saking padatnya. Tapi nyatanya perjalanan melelahkan itu membuat saya jatuh hati pada KRL.

Ah, menunggu hampir sejam ini membuat saya kembali dan semakin jatuh cinta pada KRL.

Tebet, 7 Maret 2014
Anak kereta amatiran

Ps.: cobalah naik kereta Bogor-Jakarta di senin pagi atau kereta Jakarta-Bogor di jumat petang. Rasakan sensasinya.

Kamis, 06 Maret 2014

Rekaman Lama

Listrik mengalir dari power supply tepat ketika aku menekan tombol Power On. Tak lama layar hitam berganti biru khas Microsoft. Windows nya masih type lama, XP, versi tua setua perangkat yang ada di hadapanku kini. PC yg kugunakan sejak SMP, yang tiap ku acak acak isinya selalu menguarkan memori memori lama yg membuatku mabuk dalam nostalgia.
Seperti saat ini....

Terputar sebuah video format 3gp yang pasti akan menuai ledekan mengingat dewasa ini flv sudah dimana mana bahkan telah dianggap jadul, kalah oleh ekstensi lain yg lebih canggih. Kembali ke video. Layar PC ku menampilkan kumpulan gambar yg bergantian muncul. Video dengan tampilan slide foto rupanya. Foto-fotonya pun ditampilkan dalam ukuran piksel yg sangat kecil. Membuat buram dan tak jelas gambarnya. Belum lagi gambar yg ditampilkan membuatmu harus menekuk leher 90 derajat ke arah kiri krn video nya miring. Tapi aku ingat jelas itu gambar apa.

Gambaran tangan seseorang....
tentang kumpulan anak di suatu kelas...
tersusun rapi di bangku masing-masing.
2 orang tiap bangku.
Itu gambar susunan kelasku dulu.

Berganti..
Gambarnya berganti.
Foto jam dinding di atas tembok bercat kuning.
Itu benda keramat di kelas yang selalu dilirik anak-anak ketika sudah bosan belajar. Menunggu penuh harap detiknya menunjuk jam istirahat.

Lagi, gambarnya berubah..
Sekumpulan anak berjaket hitam dgn bawahan biru seragam mengelilingi gurunya yg berpakaian dinas warna coklat khas pegawai negeri. Semuanya melambai ke arah kamera. Mulut mereka semua terbuka, meneriakkan sesuatu yg kuingat: Networks!!
Foto diambil di Ciawi. Bulan Mei 2009. Setelah makan-makan merayakan ulang tahun salah satu teman kami, Putra Adi Fajar.

Menunggu gambar selanjutnya, tapi ternyata dugaanku salah. Kali ini bukan foto, melainkan video. Gambar bergerak menampilkan suasana kelas dgn penghuninya berseragam batik kebanggaan. Sibuk berkelompok-kelompok dgn kegiatan masing-masing. Dengan suara perempuan sbg narator video, menyuarakan apa yg terjadi sesungguhnya disana.

"Haloo haloo. Ih divideoin yaaa"
"Mega mega lagi apaaa?"
"Haaaai"
"Nah ini lagi bikin TTS"
"Iiih gue gamau direkam"

Si perempuan yg merekam mendekati teman-temannya satu persatu. Mulai dari kelompok di paling belakang kelas, sedang menggambar-gambar entah apa. Di barisan paling kiri ada kelompok yg sedang membuat TTS tadi.
Lalu kamera di zoom, membidik kelompok di bangku terdepan barisan kanan. Si perempuan tak berani mendekat, hanya mampu menatap layar hp nya malu-malu sambil terus menekan tombol zoom.
Ada alasan ia tak melangkah kesana.

Dan aku tau jelas apa alasannya.

Video ditutup dengan rangkaian kata.

"This friend familyship of 9B is never made to die. love you"

Selasa, 05 November 2013

Telaga Merah Jambu Berwarna Abu

Semua menyebutnya Telaga Merah Jambu
Padahal terpantul jelas warna kelabu di mataku 
bahkan mungkin matamu
Awalnya karena semua terburu-buru
Disibukkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu
Terbuai oleh rasa yang sebenarnya semu

Hingga pada akhirnya semua terasa pilu
Bahkan ciptakan sedu sedan dari para pelaku

Semua menyebutnya Telaga Merah Jambu
Hingga pada akhirnya tersadar bahwa itu Abu-abu


Jumat, 18 Oktober 2013

Hitam


Baru saja saya memilih latar hitam sebelum saya mulai menulis ini semua. Kenapa? Mungkin sudah banyak yang tahu begitu sukanya saya pada warna hitam. Menurut saya hitam itu keren. Hitam itu kuat. Melambangkan kepercayaab diri dan kemandirian. Ah lebay ya? Saya bukan psikolog apalagi pengamat warna ko. Saya hanya merasakan saja. Merasa bahwa warna hitam itu keren, sementara ada orang di luar sana yang mengklaim bahwa hitam bukanlah warna, jadi tidak bisa dimasukkan ke dalam list "warna favorit" kalau lagi isi My Biodata di binder temen. Tapi saya tetap melakukannya kok. Dengan PD dan bangga saya tuliskan H-I-T-A-M di sana. Ada kan warna hitam di kotak crayon mu? Bersanding dengan warna lainnya di barisan kotak pensil warna? Yeah. Tanpa warna hitam, kumpulan crayon atau pensil warna itu pasti akan mengundang komplain konsumennya.

Kembali ke awal, masih di layar hitam gadget ber-cover hitam pula, saya kembali mencoba mengutarakan kesukaan saya pada warna yang satu ini. Sekarang saya mulai berpikir, adakah pengaruh dari kehidupan seseorang saat ia memilih warna kesukaannya? Misal seorang gadis cantik di sana yang dengan anggunnya memilah milih pakaian di sebuah department store dan pada akhirnya menjatuhkan pilihan pada mini dress berwarna soft pink (atau baby pink? Itu terserah imaji kalian, yang penting saya mohon utk menyamakan imaji kita bahwa si gadis memilih warna pink karena di sini saya berlaku sebagai sutradara dari film yang tengah berputar di otak teman-teman semua). Pink. Warna kesukaan si gadis itu. Terbayang juga kan kepribadiannya? Pasti si gadis sangat manis dan imut. Mungkin ia sering kali tertawa riang. Selalu memamerkan senyum termanisnya saat lensa kamera membidiknya dengan atau tanpa kesadaran si gadis. Maksudnya candid gitu. Pink tadi merefleksikan kepribadiannya. Sepertinya begitu. Kan tadi saya nanya, bentar saya scroll ke atas dulu utk lihat persisnya pertanyaan saya, oke ketemu. adakah pengaruh dari kehidupan seseorang saat ia memilih warna kesukaannya?
Kalau memang ada, berarti hitam yang identik dengan kegelapan, kemuraman, dan nama-nama kesedihan lainnya juga merefleksikan kehidupan saya? Hehe jahatnya kalian yang menjawab iya.
Alhamdulillah hidup saya memang hitam ko. Hitam keren seperti batman :D

Saya pilihkan warna hitam untuk background note ini, (saya tulis draft di note hp.maklum terlalu larut untuk buka laptop) bukan tanpa alasan. Selain memang ya.. saya suka warna hitam, saya memang sedang merasa hitam. Hitam yang identik dengan kelam, bukan hitam-keren-seperti-batman. Saya sedang merasa useless. Sedang sering menggombali ALLAH dengan kata-kata manis sementara perbuatan saya bisa membuat orang meringis. Astagfirullah. Makanya saya memutuskan untuk menulis. Mencoba ungkapkan gundah gulana ini. Terlebih saya teringat kata-kata dari banyak teman yg memuji kepribadian saya, menganggap saya begitu baik. Oh jangan. Plis. Jangan.
Jangan anggap saya begitu putih seolah tak ada noktah hitam bertasbih.
Kalian tidak tahu betapa saya merasa hitam. Astagfirullah.
Entah, saya tidak tahu bagaimana mengakhiri tulisan ini. Maaf.

Hehe. Sekali lagi, saya suka warna hitam. Tapi semoga kelamnya hitam bukanlah yang tepat utk menggambarkan kehidupan saya. Tentu saya tidak mau noktah hitam tadi mengerak dan sulit untuk beranjak. Doakan saya ya hehe makasih :)
24 Ramadhan 1434H
Bentar lagi lebaran. Berharap maaf bersedia teman-teman berikan guna bantu si hitam ALLAH lunturkan.
Makasih lagi :)

*sebuah catatan lama, selang beberapa bulan yang lalu. Hari ini, 3 hari pasca disembelihnya Hero, semoga terpenggal pula Si Hitam aamiin

Rabu, 12 Juni 2013

THE NEW ME

Assalamu'alaykum
Ini sapira yang baru. Sapira yang insya ALLAH lebih baik dari sebelumnya.
Yaaa alhamdulillah dunia perkuliahan gue bisa ngubah gue jadi sedemikian begini.
Begini gimana? Let me tell you some points.

Perubahan pertama yang bisa dilihat mata: Berat Badan saya naik drastis. Hampir mencapai kepala 5 setelah bertahun tahun betah bertengger di angka 30an.
Ini sesuatu sekali. Mungkin sebagian besar perempuan akan histeris merana jika mengalaminya, tapi tidak dengan saya.
Kenaikan berat badan membuat saya senang, riang, hari yang kunantikan bak lagunya Tasya jaman kecil dulu. Yang menguntungkan dari kenaikan berat badan ini adalah setidaknya saya jadi bisa donor darah ehehe B-)


Perubahan kedua yang juga bisa dilihat mata: Jilbab . Kenapa dengan jilbab? bukannya emang dari dulu udah pakai jilbab, ya sap? First, kita perlu tau dulu perbedaan antara Jilbab, Kerudung, Hijab dan Khimar. Ngga, saya ga akan jelasin di sini. Penjelasannya bisa di cek di Beda Hijab, Jilbab, Kerudung, Khimar .
Alhamdulillah banget saya jarang menemukan mahasiswi kampus saya ber-jeans ria. Jaraaaaang bangeeeet.
Mahasiswi muslimnya, mari kita sebut sebagai Akhwat :), mayoritas mengenakan rok. Jilbab terulur panjang menutupi dada. Baju tak menempel membungkus badan. Kaus kaki senantiasa membalut kaki dengan sempurna. Pokonya adem banget ngeliatnya.
Kalaupun memakai celana, celananya bukan jeans melainkan celana training atau celana outbound ala jaman ospek kami. Penggunaan celana pun sangaaaaat jarang. Hanya sebatas kegiatan-kegiatan olahraga saja.
Pedagang-pedagang pasar juga sudah hafal dengan gaya busana kami ini :) STIS banget katanya :)

Lingkungan memang berpengaruh besar pada pribadi seseorang ya. Dan alhamdulillah saya bersyukur sekali bisa berada di lingkungan ini. :)

Jakarta kota Metropolitan they said
di Jakarta aku belajar jadi muslimah lebih baik I said
tenang aja Bu, Jakarta ga mengubah anak gadismu ini jadi beringasan selama pergaulannya seperti sekarang ini
insya ALLAH :)

Perubahan yang tidak bisa dilihat mata: Pengetahuan. Ga salah kalau bilang anak kampus saya super duper puinter. Berwawasan luas. Ga cuma di bidang akademik, tapi softskill nya juga. Alhasil alhamdulillahnya lagi, saya kecipratan ilmu mereka. Banyak banget ilmu yang saya dapatkan selama hampir setahun ini.
Ilmu teranyar alias terbaru yang saya dapatkan adalah ilmu berorganisasi dan ilmu komputasi.
  • Dari dulu saya paling anti yang namanya organisasi. Di kampus, saya ikut organisasi ini itu, kepanitiaan ini itu awalnya karena jenuh di kost-an melulu. Ternyata, saya sangat menikmati kegiatan baru saya ini :D Pokonya seseorang harus berorganisasi dalam hidupnya! Kita kan makhluk sosial, apa jadinya kalau hidup menutup diri terus. Ga ada ruginya ko hehe :)
  • Ilmu komputasi... emm.. errr... ilmu apa sebenarnya ini -___- maksud saya komputasi tuh Algoritma. Baru kali ini saya bertemu si Algo ini. Mata kuliah yang memaksa saya berada di depan laptop berjam-jam. Ya bukan memaksa juga sih namanya karena saya menikmatinya hehe. Mata kuliah Algoritma ini kadang nyebelin kadang nyenengin walau lebih sering nyebelinnya. Algoritma berkaitan erat dengan logika kita. Dan sering kali logika saya ga nyampe -___-


 Lain waktu, saya pengen lebih sering posting ilmu-ilmu yang saya dapat dari mata kuliah kampus saya. Mata kuliah yang saya anggap ajaib, terutama si Algoritma tadi.

Oke see ya!
Saya masih di kelas Algoritma nih :P kelas yang "memaksa" mahasiswanya berada di depan laptop
Jangan salahkan kami kalau kami malah asyik berinternet ria :P
Tidak untuk ditiru!

Wassalam
System.out.print("SHAFIRA MURNI");
pake syntax biar kece

Minggu, 12 Mei 2013

Lost In Jakarta

Bismillah...

First, saya kenalin dulu sama temen-temen hebat saya ini.
Fitriyas Kinanti a.k.a Itti
Henny Febriyani a.k.a Henny
Oktaviani a.k.a um... oktaviani haha she has only one word as her name.
Tamara Dayu Oktaviani a.k.a Dayu
Wenny Raina Erawati a.k.a Wenny

Pernah punya keinginan untuk "berpetualang?". Go nowhere with no any direction nor map?
Punya temen-temen yang bisa dan mau diajak pergi tanpa tujuan?
Orang-orang di atas lah partner saya melakukan kegilaan ini :P

Setelah sekian lama tidak jumpa, akhirnya Sabtu, 11 Mei 2013 kami berkesempatan ngumpul lagi (walaupun ga lengkap karena Okta dan Itti masih di negeri rantauannya masing-masing). Saya, Wenny, Henny, dan Dayu akhirnya dipertemukan lagi di... TARRA!! Gang Selot! Gang sejuta kenangan semasa SMP. Terletak tepat di sebelah gedung SMP tempat kami menimba ilmu di masa lampau, tempat di mana kami dipertemukan oleh ALLAH.

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 1:59 pm Waktu Indonesia bagian Bogor :P kalau ke Selot, makanan pertama yang melintas di otak kami tak lain dan tak bukan adalah LENGGANG!! Makanan favorit sejak SMP :9 Alhamdulillah gayung bersambut karena di antara deretan kios makanan yang sudah tutup, ibu penjual lenggang masih menunggu pelanggannya dengan setia.

Makan lenggang deh :9


Sejam pertama, kami masih punya tujuan, yakni makan di Selot (yang sudah ter"kabul" tadi) dan belanja Alat Tulis di

Toko ABC 

di daerah Suryakencana, Bogor. Pasca dari ABC ini yang kami bingungkan. Dayu pun mencetuskan ide untuk mengunjungi kantornya di bilangan Jakarta Utara dan kami mengiyakan, itung-itung nemenin Henny ngabuburit karena Henny lagi puasa Rajab. Yaaaap, kami ke Jakarta dengan saya dan Dayu sebagai navigator. 

Arus lalu lintas Bogor-Jakarta begitu lancar karena saat itu bukan hari kerja. Kalaupun hari kerja, biasanya jalur Bogor-Jakarta lah yang padat, bukan sebaliknya jadi kami merasa tenang dan nyaman. Nah, saat hendak memasuki Tol dalam Kota, puluhan kendaraan menyemut memadati badan jalan yang menyempit! Suasana diperparah dengan sambaran kilat yang terlihat dari kejauhan, pertanda hujan deras akan segera mengguyur kota.

Kepadatan terasa hingga kurang lebih pukul 4:00 pm dan kami pun memutuskan untuk berganti tujuan. Jakarta Utara langsung diblacklist karena kami tidak mau terjebak macet berkepanjangan dan kami penasaran dengan Menara Saidah yang terletak di Jalan M.T Haryono. Kami memutuskan untuk memasuki area Jakarta Timur (Cawang). Hujan pun turun.

Keluar dari Tol Cawang, kami melaju mulus di sepanjang Jalan M.T Haryono. Melihat gedung-gedung yang angkuh mencakar langit, seakan menantang kilat yang tak hentinya saling menyambar satu sama lain. There you are, 

Menara Saidah

menara bergaya Romawi yang membuat teman-teman saya penasaran. Tapi tidak, kami tidak berhenti dan memasuki gedung untuk explore lebih jauh. kami tidak seberani itu -___- (hey mungkin saya bisa mengajak mereka lain waktu :P) . Perjalanan harus terus dilanjutkan karena kami punya tujuan baru, yakni MASJID! Hey, kami belum salat asar!

Kendaraan kami terus melaju menyusuri kota Jakarta yang basah. Tak satupun masjid kami temukan. Rasanya sangat susah menemukan masjid saat itu terlebih kami tidak tau arah -___- Kami hanya terus menyusuri jalan dipandu oleh Maps pada Smartphone Wenny karena Dayu tidak berdaya di daerah Timur Jakarta dan saya tidak terlalu percaya diri untuk menunjukkan jalan. Menit demi menit berlalu dan hey! di samping kanan kami ternyata Halte Busway Gelora Bung Karno, entah kenapa kami bisa sampai sini -____-

Jam sudah menunjukkan pukul 5:00 pm dan kami belum salat asar, saya langsung mengarahkan ke

Grand Indonesia

Di sana pasti ada musholla kan. Tapi ternyata tidak semudah itu, kami harus memutar balik. Kami tidak tahu di mana kami harus putar balik. Oke, berhasil lah ya putar balik. Tapi kami tidak tahu jalan masuk ke Grand Indonesia. Kami sempat "nyasar" malah masuk ke gate in Menara BCA .___.

Alhamdulillah setelah bermenit-menit muter-muter, kami menemukan gate in nya. Segera kami mencari musholla. Alhamdulillah musholla berada di lokasi yang layak (beberapa mall menempatkan musholla di basement dengan kondisi yg menyedihkan). Kondisi dalam musholla tidak saya lihat karena memang saya sedang berhalangan. Kami memutuskan untuk meninggalkan Grand Indonesia segera setelah salat asar karena "atmosfer" mall yang sangat tidak bersahabat. Mungkin karena kaum jetset lah yang mendominasi (or even ALL of THEM are) mall. Ya memang Grand Indonesia kan untuk kelas menengah ke atas :P

Guess what?? Keluar dari Grand Indonesia means Pulang ke Bogor! Yaaaap, kami memutuskan untuk langsung pulang ke Bogor dan makan malam di Bogor saja daripada di Jakarta. Jadi kami pergi tanpa arah ke Jakarta hanya numpang salat asar dan ngeliat Menara Saidah :P haha What an adventure!


PULAAANG!! :D





Jumat, 10 Mei 2013

Merantau (Bukan Judul Film)

taken from Google

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.

Dari pepatah di atas sudah bisa disimpulkan bahwa kita DISURUH untuk pergi ke tempat yang sangat jauh sekalipun demi meraih ilmu. Pergi dari kampung halaman tercinta, meninggalkan zona nyaman kita, meraih apa yang semua pinta. Ilmu. Kesuksesan. Aamiin.

Meninggalkan zona nyaman memang bukan hal yang mudah. Kita mengenal apa itu home sick, jet lag hingga culture shock. Khusus untuk jet lag mungkin dikarenakan perbedaan zona waktu yg berimbas pada tubuh. 2 lain yakni home sick dan culture shock lebih menyerang psikis kita dan inilah yang tersulit. Sakit fisik bisa diobati tapi sakit psikis? harus dengan pendekatan emosional pula metode penyembuhannya.

Tapi merantau tidak sesakit itu kok. Banyak hal indah ditawarkan oleh negeri rantauan. Dan bagian terindah dari merantau adalah saat pulang kampung :) Layaknya puasa, bagian terindah dari puasa adalah saat berbuka. Kita tidak bisa merasakan nikmatnya berbuka jika sebelumnya kita tidak menahan hawa nafsu, menahan lapar dan dahaga. Nikmatnya seteguk air yang akhirnya membasahi keringnya tenggorokan hanya dirasakan oleh orang-orang yang berpuasa. Begitupun dengan pulang kampung. Nikmatnya melihat pemandangan kampung halaman hanya dirasakan oleh mereka yang sudah lama tidak melihat pemandangan  itu, sekalipun pemandangannya berupa keriuhan pedagang-pedagang atau penumpang berdesakan yg menyeruak keluar dari stasiun atau terminal. Pemandangan yang terlihat kacau pun terasa begitu indah nan mengundang kerinduan.

Dari sinilah muncul rasa cinta pada kampung halaman. Yang awalnya memandang biasa saja tempat ia dibesarkan, akhirnya menyadari bahwa tempat itu begitu berarti baginya. Begitu menyimpan banyak kenangan. Begitu memiliki jutaan alasan untuk dirindukan.

Merantau tidak membuat pelakunya melupakan kampung halaman, justru sebaliknya. Dengan merantau, kita diajak untuk membuka wawasan kita, diperkenalkan pada dunia yang baru apalagi jika tujuan perantauan adalah dunia internasional yang memiliki perbedaan jauh dengan negeri asal. Negeri rantau menawarkan pemandangan yang berbeda dengan kampung halaman kita. Membuat kita semakin seksama membandingkan, "Oh di tempat asal saya, ini tidak begini. Tapi begitu." dan saat melakukan perbandingan itu, biasanya kita akan "narsis", merasa milik kitalah yang terbaik. Kembalilah kita sadar bahwa kita begitu mencintai kampung halaman kita.

Saya sendiri merasakan hal tersebut. Awalnya saya merasa Bogor adalah kota yang biasa saja sampai saya melihat Bogor dari sudut pandang yang berbeda, yakni melalui sudut pandang seorang perantauan. Ya walaupun saya hanyalah seorang Perantau Satu Jam. Tunggu, hanya dengan jarak satu jam perjalanan saja sudah membuat seseorang menjadi semakin cinta kampung halaman lalu bagaimana jika jarak ribuan mil memisahkan si pelaku perantau dengan negeri asalnya? Tentu kerinduan akan semakin membuncah!! Efek panjangnya, ia akan semakin mencintai kampung halamannya!! Mungkin bisa saya simpulkan bahwa Tingkat Kerinduan berbanding lurus dengan Jarak dan akan berbanding lurus pula dengan Peningkatan Rasa Cinta terhadap Kampung Halaman. Mungkin pula, begini rumus matematisnya:

Rasa Cinta = Jarak x Kerinduan


(Maaf kalau rumus matematisnya salah, pelaku LDR yang lebih tau #eh)

Siapa yang tidak ingin merasakan cinta yang sebesar itu? Cinta kampung halaman yang hanya bisa didapatkan dengan cara meninggalkannya untuk beberapa waktu sebelum akhirnya kembali ke peraduan. Cinta kampung halaman yang bisa diraih dengan merantau dan akhirnya kembali ke pangkuan kampung halaman. Jadi, masih takut untuk merantau? Nikmatnya pulang kampung hanya bisa dirasakan oleh mereka yang merantau lho :)

di postkan setelah disuguhi gagahnya Gunung Salak dalam tegasnya-biru-pasca-diguyur-hujan sekembalinya dari Jakarta.

Bogor, Jum'at 10 Mei 2013
Shafira Murni
Perantau Satu Jam

Jumat, 26 April 2013

Sesi Nol

Terinspirasi dari sistem perkuliahan saya yang jadwal reguler per harinya terdiri dari 3 sesi, di mana
Sesi 1 : 07.30 - 10.00
Sesi 2 : 10.15 - 12.45
Sesi 3 : 13.30 - 16.00
wait... one more
Sesi 4 : 16.15 - 18.45
yaaaap ternyata sesi 4 sudah dibuka, merupakan hal lumrah di masa menjelang UTS seperti ini.
yayaya, Senin, 29 April saya akan menjalani UTS Genap. Doakan.. makasih :)

Kampus sudah membuka sesi 4, saya sendiri sudah membuka sesi 0 dan bahkan sesi 5, 6 dan 7 B-)
Sesi 0 : 02.00 - 05.00
Sesi 5 : 19.00 - 21.00
Sesi 6 : 21.15 - 23.00
Sesi 7 : 23.00 - 02.00 ... sesi tidur tentu saja



SESI NOL
Dilihat dari rentang waktunya, sepertinya sesi ini yang paling lama (selain sesi tidur haha). Kenapa? Banyak hal yang harus dan bisa dilakukan di sesi ini. Karena sesi ini "ciptaan" saya sendiri, then I have recommended things-to-do in this session: 

1. Mencuci Baju

taken from komikmuslimah.blogspot.com
Jadwal Anda padat? Urusan rumah tangga terbengkalai? Sepadat apapun activities day kita, usahakan kamar/rumah jangan sampai berantakan, cucian numpuk, gapunya baju bersih dan iyuh sampah di mana mana. NO WAY!

Sebelum tidur, tentu saja kamar HARUS dirapikan dulu. Sapu kamar, tempatkan kembali barang-barang di alamnya, buang sampah, dll kecuali mencuci baju! Tidur saja terlebih dulu, baru bangun di sesi nol ini untuk mencuci baju :) Jangan cuci baju dulu baru tidur tapi terserah sih.. Terakhir saya cuci baju dulu lalu tidur, eh saya malah tidak tidur sampai 24 jam berikutnya. Zombie-ing myself. And it wasn't good, really.

Berhubung Jakarta kembali sering diguyur hujan, jadi jam mencuci baju harus segera digeser. Saya gamau nyuci baju eh abis itu malah hujan alhasil cucian saya ga kering-kering. Jadi, selain dikarenakan padatnya jadwal tadi, saya memutuskan untuk mencuci baju di sesi nol ini B-)

Mencuci baju di sesi nol merupakan hal yang sakral buat saya. Why? Suasana masih sepi, ga ada yang ganggu, anak kost masih pada tidur, udara masih dingin, pas ngejemur pun di luar belum ada orang berlalu-lalang. Jadi saya bisa menikmati alam sendiri. Ngeliat citylight yang masih terpancar nun jauh dari wilayah Kuningan-Casablanca dkk. dan kalau udah telat banget, saya bisa ngeliat semburat senja sang mentari saat saya sedang ngejemur itu. TOP lah pokonya walaupun saya berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari hal tsb karena eh karena pokonya jam 5 subuh tuh saya harus udah tidur lagi sebelum memulai sesi 1 di kampus.

Selain menikmati panorama alam di kesunyian, keuntungan lain mencuci baju di sesi nol adalah setidaknya cucianmu sudah tidak berair saat tanda-tanda Jakarta akan diguyur hujan mulai muncul.
Maksudnya gini lho, biasanya kan Jakarta hujannya ba'da zuhur tuh. Jam 1 gitu biasanya.
Nah kalau udah ngejemur dari jam 4 pagi kan otomatis tetesan airnya sudah hilang dong pas jam 10an pagi? jadi tinggal dihangatkan di dalam ruangan kalaupun emang turun hujan.

Jemuran kering adalah hal terindah dalam dunia per-kost-an saya :)
Lebay? biarin. Bahagia itu sederhana.
The best part of washing clothes is when they dried- Shafira Murni, 17tahun++, anak kost sehat.

2. Belajar

taken from komikmuslimah.blogspot.com
Jujur, saya males banget belajar. Apalagi kalau udah ketemu laptop sama modem, ya sudah, yg namanya modul bahan ajar ga bakal fokus dipelajari. Biasanya saya ketemu duo kombinasi dahsyat ini malem-malem setelah pulang ngampus. Yang harusnya dipakai untuk belajar demi persiapan kuliah hari selanjutnya, malah saya pakai untuk ngenet, kalau kata orang sunda mah "lalajo" alias "menikmati"
Berdasarkan tips dari kakak tingkat dan ibu warteg-dekat-kost-an, saya dianjurkan untuk tidur lebih awal, misal jam 9 malam, agar bisa bangun jam 2 pagi. Ngapain bangun dini hari? TARRRAAAAA! Untuk belajar.

Oiya, warning sedikit, ga semua orang cocok dengan tipe belajar seperti ini. Kan tiap orang beda-beda ya. Temen kost saya misalnya, dia cocoknya hidup di darat, ga cocok kerja di air #salahfokus, oke sorry. Temen kost saya ga bisa belajar dini hari. Dia pasti tumbang kembali sambil memeluk guling alih-alih melahap modul bahan ajar. Dia cocoknya belajar di siang hari.

Nah, untuk saya sendiri sih, alhamdulillah metode tidur-cepat-agar-bisa-bangun-dini-hari-untuk-belajar efektif banget buat saya. Materi jadi lebih mudah diserap gitu deeh~
Tapiiiii, ada tapinyaaa. Saya harus tidur lagi setelah belajar. Ga bisa langsung mandi terus berangkat ke kampus untuk kuliah. Pokonya harus tidur lagi setelah belajar tuh. Minimal setengah jam lah .___. ehehehe

3. Masak 
taken from http://iasafasna.blogspot.com

Ciyeee sapira masak. Ga yang ribet-ribet. Entah kenapa semenjak nge-kost, hidup seekor (mungkin beberapa ekor) monster di perut yang merongrong saya untuk memberi mereka pakan... tiap saat. Saya jadi cepet lapar. Dan lagi-lagi karena jadwal kuliah yang padat (halasaaan!!) saya jadi susah ke warteg. Tapi alhamdulillah di kost-an ada dapur, jadi saya bisa goreng sesuatu buat dikunyah. Ya pokonya harus ada sesuatu yang bisa dikunyah. Timing yang tepat untuk mempersiapkan sesuatu itu adalah di sesi nol ini B-)

Jadi pas harus berangkat pagi-pagi demi mengejar sesi 1 di kampus, insya ALLAH monster di perut saya bisa ditenangkan untuk sementara karena saya sudah memenuhi kewajiban memberi mereka pakan di waktu sebelum subuh B-) #kibaswajan

4. Solat Tahajjud off course

taken from Al-qur'anul Kariim

Udah bangun sebelum subuh tapi ga tahajjud? wah rugi bandar :)
kecuali ya kalau lagi halangan .__.


Yaaap. I've told you my to-do-list for my Sesi Nol :)
kalau sesi 5 sama 6 apaan sap?
2 minggu terakhir sih saya ke Seven Eleven. Kumpul sama squad buat belajar. Belajar akademik, belajar refreshing dengan cara yang benar, belajar memperbaiki makhraj kami :)

Semoga bermanfaat!
Wassalamu'alaykum,
shafira :)

Jumat, 01 Februari 2013

Stasiun yang Diam-Diam Kusukai

Tuuut.. tuuut...

Sebenarnya bukan suara itu yang acap kudengar saat berada di sana
Modernisasi telah mengubah dan meniadakan suara klasik itu
Berganti menjadi decit armada saat bersentuhan dengan rel tempatnya berpijak
Berhias suara lantang dari speaker pertanda keretamu 'kan beranjak

Satu yang kutahu tentang sebuah pertemuan
adalah pasti muncul sebuah perpisahan
Namun satu yang tak pernah kuharapkan
Begitu cepat aku dan kamu mengecap kata perpisahan

Stasiun yang diam-diam kusukai
Tempat klasik pertemuan dan perpisahan berdiri
Memisahkan, mempertemukan raga dalam jiwa berhati nurani
Tempat klasik pertemuan dan perpisahan kami

Satpam dan announcer telah menggertak diam kami
Pertanda kamu harus pergi
dengan menumpangi armada besi
tanpa kutahu adakah dirimu 'kan kembali

Stasiun yang diam-diam kusukai
Yang selama ini memiliki banyak arti
Pertemuan dan perpisahan terjadi di sini

Kamis, 03 Januari 2013

Surat Cinta

taken from Google Image


Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh, shalihat :D
Saudariku yang cantik, mari kita akui satu hal, bahwa benarlah kita masing-masing ada rasa ingin lebih cantik dari siapapun.
Saudariku, sudah berbagai upaya kita lakukan dalam menunjukkan kecantikan itu. Melalui perhiasan, pakaian, prestasi, perbuatan dan banyak lagi. Tapi saudariku, coba kita renungkan, adakah akhirnya? Semua terus berlomba agar terlihat cantik. Ketahuilah saudariku, kita semua cantik :)

Saudariku, pernahkah kita berjuang agar tampil cantik di hadapan-Nya?
Sebenarnya, melalui surat ini aku ingin mengajakmu untuk membayangkan sesuatu (dan semoga pada akhirnya akan mewujudkan aamiin).

Bayangkan jika kita semua para akhwat, muslimah, shalihat di dunia ini berpenampilan cantik untuk-Nya :)
Bayangkan bila semua akhwat, muslimah, shalihat di dunia ini mengenakan jilbabnya sesuai syari'at-Nya.
Mengulurkan jilbabnya hingga menutupi dada.
Berpenampilan tanpa mencolok mata, tanpa mengundang tindak jahil siapapun yang melihatnya.

Aku tau saudari-saudariku pandai berimajinasi.
Dan hei, apakah hasil bayangan tadi menyejukkanmu, saudariku? :)
Aku yakin, iya :)
Aku yakin saudari-saudariku sebenarnya ingin berpenampilan cantik :)
Sebenarnya ingin mengenakan jilbab sesuai syari'at-Nya.
Tebakanku benar 'kan, saudariku? :)

Bayangkan saat kita semua sama-sama mengulurkan jilbab kita, belajar ilmu dunia bersama, belajar menggapai ridho-Nya bersama.
Indah ya ? :D

Maka saudariku, inilah penghujung surat cintaku, mari kita nikmati imajinasi kita tadi dalam bentuk nyata.
Imaji kala semua akhwat, muslimah, shalihat mengulurkan jilbabnya, menjaga auratnya, menjunjung kehormatannya, menggapai ridha-Nya bersama dalam ukhuwah Islamiyah..
Mari kita wujudkan imaji itu :D

Bayangkan kala sapa salam terucap dengan senyum merekah kepada sesama saudari muslim.
Indah nian bukan? :D

Aku butuh kamu untuk mewujudkan imaji kita itu,
Karena tanpa kamu, frasa "semua akhwat, muslimah, shalihat" tadi akan kehilangan anggotanya yang cantik yaitu kamu :)

Yuk, kenakan jilbabmu :)

Salam sayang,
saudarimu
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh :)

Panti Sosial Asuhan Anak


Sebuah naungan bagi putra-putri bangsa yang tidak seberuntung kita semua.
Sebuah naungan bagi putra-putri bangsa yang memiliki harapan yang sama besar dengan harapan kita.
Sebuah naungan bagi putra-putri bangsa yang mengharap ilmu dunia dan akhirat serta selalu belajar tidak hanya untuk kehidupan.

Terletak di Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Hingga saat tulisan ini dipublikasikan (Kamis, 3 Januari 2013) terdapat 42 putra-putri yang bertempat tinggal di panti sosial ini. Dengan seorang yatim berusia 4 tahun sebagai yang termuda dan Pelajar SMK sebagai yang tertua tinggal di panti sosial ini.

Beberapa profil putra-putri hebat itu yang cukup saya kenal :
  • Irma Rahayu F
          Seorang remaja cerdas kelahiran 26 April yang bercita-cita menjadi koki, kini duduk di penghujung masa rok biru alias kelas 3 SMP. Insya ALLAH sebentar lagi akan menghadapi UN.
  • Karma
          Remaja tanggung yang baru saja memasuki babak barunya sebagai pelajar SMA (SMK). Semoga tidak menjadi remaja tanggung yg ilmunya tanggung-tanggung. Aamiin.
  • Rizki (Iki)
          Lelaki cilik bergigi ompong yang sangat ceria dan energik :D
  • Omen (O'om)
          Gadis cilik teman bermain Iki. Mereka sangat klop :D namun alhamdulillah sekarang O'om sudah kembali tinggal bersama neneknya -tidak lagi tinggal di panti-

Berikut secuil kisah bersama mereka
http://murnisapilay.blogspot.com/2012/05/ketika-tersadar-bahwa-kita-begitu.html

Bagi yang berkenan menyisihkan sebagian rezekinya untuk mereka, bisa ditransfer melalui
rekening BRI 0808 01 001093 53 7 di BRI Ciampea Bogor
a/n Yayasan Nurul Yakin

Terima kasih :)

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh


Selasa, 18 Desember 2012

MISSING LINK

Kata tak tersampaikan adalah missing link.

Saat terasa begitu abu bahkan hitam, sesak, menyebalkan, saat itulah kita harus menemukannya.

Kita perlu mengungkapkannya.

Agar tiada lagi prasangka

MENULIS

Menulis 
bukan hanya sekedar 
memegang pena lalu merangkai kata sekaligus menghabiskan tinta.

Menulis 
adalah proses 
menenangkan hati, melapangkan jiwa, 
membuka pikiran, menyapa dunia, memberi ilmu
menumpahkan gundah, mengenyahkan sesak, mengubah prasangka, 
menyeret pada bahagia
dan pada akhirnya... 

Menulis akan menciptakan lega :)

Biarkan penamu menari


Jumat, 12 Oktober 2012

ROAD to STIS

terinspirasi dari tugas Magradika STIS angkatan 54 hari pertama, Senin, 10 September 2012

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaykum, teman temanku :D
postingan ini akan menjadi panjang sekali :)

ROAD to STIS (literally)

Pertama kali tau tentang STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) yakni diberitahu seorang teman. Saat itu saya sudah duduk di bangku kelas 3 SMA dan saat itu pula memang masanya mencari "kemana harus kulangkahkan kaki ini untuk menuju masa depanku?" alias mencari kuliah. Saya memang sangat menyukai matematika, terlebih ibu saya seorang guru matematika di SMA tempat saya menimba ilmu. Lengkaplah sudah, image matematika begitu menempel pada diri saya. Teman-teman pun sangat mengetahui kalau saya menyukai matematika. Di sinilah semuanya bermula.

Teman saya, Putri Rahmawati, menyarankan agar saya mendaftar ke STIS. Letaknya di Jakarta. Dia sangat mendukung saya untuk mengikuti tes di STIS. Dia mengetahui STIS ini dari ayahnya. Darinya saya tau bahwa STIS lah tempat yang cocok bagi seorang penyuka matematika yang berkeinginan untuk menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) seperti saya ini. Yap, saya sangat ingin menjadi seorang PNS seperti ibu saya.
Saya pun mendiskusikan saran ini dengan orangtua. Alhamdulillah, orangtua sangat setuju dan mendukung. Apalagi bapak saya :)

Di penghujung bulan maret, seorang teman lainnya, Syafrina Tijjani, mengirimi saya sebuah link via jejaring sosial twitter. Link itu menautkan ke laman website STIS (www.stis.ac.id). Firna memberitahu saya bahwa pendaftaran mahasiswa/i baru STIS telah dibuka. Tanpa pikir panjang saya pun mendaftarkan diri secara online.

Masalah muncul, hingga akhir April saya sama sekali tidak ada persiapan dan tidak ada gambaran "bagaimana sih tes seleksi masuk STIS?". Sedangkan tes tahap pertama dilaksanakan pada 12 Mei 2012. Tidak seperti USM STAN, buku buku latihan USM STIS tidak saya temukan di toko buku manapun. Saya mulai berpikir, serahasia inikah? Sesulit inikah untuk menerobos pertahanan STIS?

Alhamdulillah ada seorang teman dari STAN, Mochamad Jaelani, yang memberitahu saya bahwa biasanya menjelang USM STIS, pihak STIS ataupun BPS menjual buku latihan soal USM STIS. Segera saya mengoneksikan dengan internet. Membuka laman website STIS, membuka akun e-mail saya, membuka berbagai jejaring sosial dan mencari di google. Benar saja, di e-mail yang sangat jarang saya cek ternyata sudah ada pesan baru yang menginformasikan tentang penjualan buku latihan USM STIS. Begitu pun di laman website STIS. Dengan diantar oleh Bapak saya dan adik bungsu saya tercinta, segera saya meluncur ke STIS di keesokan harinya. Alhamdulillah saya mendapat copy-an nya karena buku aslinya sudah sold out. Saya ingat sekali hari itu Kamis, 26 April 2012, hari seharusnya saya bermain bersama teman-teman X-1 namun saya batalkan karena kebutuhan pembelian buku USM STIS itu :) Selain membeli buku, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti Try Out USM STIS yang dilaksanakan pada Minggu, 29 April 2012.

Alhamdulillah tes tahap pertama yakni tes akademik saya lalui dengan lancar walau saya sendiri tidak merasa puas. Tak banyak pertanyaan tes yang saya jawab. Rasa pesimis juga muncul apalagi saat tahu seorang teman berhasil menjawab pertanyaan matematika sebanyak 30an soal sementara saya hanya menjawab 15 soal saja. Namun alhamdulillahirabbil'alamin, pada 25 Mei 2012 yakni hari pengumuman hasil seleksi tahap pertama, nomor peserta saya tercantum di lembar pengumuman itu. Ya, saya lolos tahap pertama :')

Tahap kedua, psikotes dan wawancara, dilaksanakan pada Sabtu, 2 Juni 2012 (psikotes) dan Senin, 4 Juni 2012 (wawancara). Dengan bismillah dan diantar oleh kedua orangtua saya dan lagi lagi adik bungsu saya, Maghfira Maulani, saya lancar menjalani kedua tes tersebut. Alhamdulillah.

Jum'at, 15 Juni 2012, hari pengumuman hasil seleksi tahap 2 USM STIS. Melalui website, saya mendownload pengumumannya. Beginilah isi pengumuman itu

alhamdulillah cadangan :)
Saya ga dinyatakan gagal, ga dinyatakan lolos pula. Alhamdulillah :)
Peserta cadangan bakal dipanggil untuk melakukan tes tahap 3 (tes kesehatan) kalau ada peserta yg lolos tahap 2 namun  tidak lolos seleksi tahap 3. Pemanggilan peserta cadangan dilaksanakan pada Jum'at, 29 Juni 2012.

Selain mendaftar di STIS, saya juga mendaftarkan diri di IPB prodi Statistika dan Ekonomi Syari'ah. Alhamdulillah saya diterima di prodi Ekonomi Syari'ah. Saya pun diwajibkan dan berhak tinggal di Asrama TPB IPB per 28 Juni 2012. Yap, sehari sebelum pengumuman pemanggilan peserta cadangan saya pindahan ke asrama IPB.

Semalaman saya galau. Tidak ada keinginan untuk tidur. Terus-menerus memikirkan cadangan...cadangan...dan cadangan. Hingga paginya, pukul 5 subuh setelah melaksanakan solat subuh, saya berlari ke kamar Firna untuk numpang ngenet karena handphone saya tidak bisa digunakan untuk mendownload pengumuman yg berupa file pdf.
nomor peserta saya ga ada di situ :)
Saya ga dipanggil :) Sedih? Iya jelas. Bingung. Kecewa. Takut kecewain bapak.
Sejak hari itu saya coba buat ikhlas. Fokus di IPB. Mungkin saya cocoknya di kampung halaman sendiri, di Bogor. Ga perlu rantau ke Jakarta. Terus menerus saya coba untuk bersyukur. Alhamdulillah kalau di IPB kan gampang pulang ke rumah. Alhamdulillah deket ke ortu. Alhamdulillah di IPB banyak temen se-SMA, se-SMP. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Pokonya saat itu saya terus berusaha untuk tetap bersyukur.

Alhamdulillah ALLAH memang benar menambah nikmat bagi siapapun yang bersyukur.

Selasa, 17 Juli 2012 pukul 14:08 saya sedang berada di asrama IPB gedung A1 kamar 69, di kamar teman, handphone saya bergetar. Ada panggilan masuk. Nomor Jakarta.

"hallo, bisa bicara dengan Shafira Murni?"
"Ya, saya sendiri." kewaspadaan saya aktif. Segera saya rekam percakapan *sudah menjadi kebiasaan kalau ditelepon nomor tak dikenal*
"Kami dari Sekolah Tinggi Ilmu Statistik."
bla
bla
bla

BUM!! Intinya saya alhamdulillah diberi kesempatan untuk melakukan tes kesehatan :") rekamannya sampai sekarang masih saya simpan :")

Lagi-lagi dengan diantar oleh Bapak saya tercinta, kami meluncur ke Jakarta. Mengambil Surat Pengantar Tes Kesehatan di Kampus STIS. Lalu kami meluncur menuju RS Gatot Soebroto, rumah sakit rujukan untuk saya melakukan check-up.

Rabu, 1 Agustus 2012
Pengumuman tes kesehatan. Saya pikir hasil akan diumumkan via website seperti biasa, dari pukul 5 pagi hingga pukul 10 pagi saya berjuta kali mengecek website STIS melalui handphone saya. Tapi hasilnya nihil.
Yasudahlah, mungkin memang telat, pikir saya kala itu.

pukul 11:15 di lobby Asrama TPB IPB gedung A4,
saya memberanikan diri menghubungi pihak PMB STIS. rekamannya pun masih ada hingga sekarang :)
"kamu log in lagi ke laman PMB untuk proses selanjutnya, lalu kamu download berkas-berkasnya."
"kenapa, Pak? Download SPJ, SPID dan lainnya? berarti saya lolos, Pak?"
"Iya, kamu lolos." *terdengar sekali Bapak itu tersenyum di seberang sana :)*

terbayangkah bagaimana perasaan saya kala itu?

ALLAHU AKBAR
ALHAMDULILLAH
ALLAH MAHA BESAR :)
Jujur, saya senang :) sangat senang. Alhamdulillah.

Ps.: Is being study oriented wrong? I'm being like this for reasons. And this story tells you everything :) doesn't it?

Salam semangat,

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh :)

Kamis, 11 Oktober 2012

Muka Datar

Rabu, 10 Oktober 2012
Daerah Bonsay, Jalan Sensus 2B pukul 20:38 WIB

"Enak di sini, ga mesti nyebrang. Kan kasian yang nungguin di kampung kalau pas nyebrang kenapa-kenapa."
"Ih amit-amit, Bu."
"Haha iya jaga-jaga, kan kasian yang nungguin tuh."
"Siapa, Bu yang nunggu. Ga ada, Bu haha."
"Bukan ga ada, tapi belum kali. Sini mah banyak. Biasanya anak STAN kan. STIS mah pasangannya biasanya STAN. Udah kenal banyak ibu juga, akrab. Banyak yg suka kunjungin pacar-pacarnya haha."
Lalu pencarian kost-kostan pun dihentikan....

sapira
dari Bogor