Total Tayangan Halaman

Sabtu, 07 April 2018

Kamu.

Doa terbaik untukmu
Selalu
Sejak dulu
Hingga entah kapan ALLAH masih perkenankanku

Senin, 11 Agustus 2014

Partner of Life

Hari itu, pagi sebelum berangkat kuliah, jarang-jarang melirik surat kabar. Mengintip rubrik yang kuimpikan suatu hari ada aku di situ sebagai profil ulasan, Sosialita.
Di kolom data pribadi sang profil, ada kolom nama suami. Yang menarik, sang suami dideskripsikan sebagai Life's Partner.

Lagi, teringat gambar ini

I'm looking for mine. Seseorang yang bisa menerima dan menangani sisi gelap saya sebagai suatu anugerah alih-alih malapetaka.

Kemudian teringat kembali wejangan dari Princess Kamar Nomor 7, Widiamarta Putri, yang berujar, "gue lebih milih orang yang bisa gue ajak obrolin banyak hal, ngalor ngidul becanda daripada sekedar orang yg dengan kaku lu ajak ngobrol karena lu terlalu hormat sama dia."

Belum lagi saat ini malah teralihfokuskan oleh romansa antara Mba Hanum dan Mas Rangga dalam petualangannya di ranah adidaya, Amerika. Sang suami dengan penuh sabar dan kejutan tiada henti menemani sang istri yang katanya tak bisa ia tinggal sendiri. Siapa yang tak iri?

Tapi tetap, berpaku pada sebuah alasan dalam memilih pasangan yang tertuang dalam e-novel yang dikirim seorang teman. Tentang seorang muslimah yang membuat keputusan menghampiri sang ikhwan pujaan. Dipilih bukan sekedar rupa sebagai alasan melainkan nuraninya mantap putuskan sang ikhwan lah penuntunnya menapaki jalan Tuhan.

Maka, inikah jawaban? Atas sebuah pertanyaan dari seorang teman beberapa hari silam, "apa yg diinginkan seorang perempuan dari lelaki?"
Jawabanku: he should be her partner of life.

Bandung, 30 Juli 2014
Lebaran hari ke-3
9:43pm
Ketika obrolan seputar pasangan berseliweran.

Kamis, 10 April 2014

Balapan Tanpa Persaingan

Aku seperti melihat sebuah balapan tanpa persaingan
Saat mereka mulai meluncur cepat padahal awalnya tertahan pada suatu kisi
Banyak yang kembali terhenti tapi tak sedikit pula yg terus bergulir hingga ke dasar
Berjumpa dan kumpul kembali dalam sebuah genangan
Basah
Dingin
SNN PDB makin tak kuperhatikan
Gemericik ini lebih mengundang perhatian
Seperti air terjun kata seorang teman di belakang
Kami menikmati ini
Setelah panas terik menyelimuti jakarta barang sepekan
Kami merindukan ini
Atau bahkan justru kami resah akan banjir yg bisa saja datang
Tapi yg jelas gemericik ini merdu
Kami menikmati ini

SNN PDB semakin tak diperhatikan

Pada air yang membasahi tembok luar Gedung 1 STIS

Rabu, 09 April 2014

Pemilih Cerdas

Assalamu'alaykum
Emm... bisa agak serius nih isi postingan kali ini.
Dimulai dari obrolan via LINE dengan Mia malam ini. Tentang masyarakat yang menyatakan masuk ke dalam golongan putih yang jauh dari konotasi suci (sebentar, jgn dulu men-judge saya mengkambinghitamkan para pemegang hak suara yg kelingkingnya tak bertinta malam ini).

Hari ini, Kamis, 9 April 2014 diselenggarakan Pesta Demokrasi 5 tahunan di negeri kita tercinta ini. Pemilu Legislatif. Pertama kalinya bagi saya dan segenap rekan sejawat. Para pemilih pemula seperti kami inilah sasaran empuk dibebaninya amanah utk 'mempersiapkan' nasib bangsa dan negara 5 tahun ke depan. Gimana cara mempersiapkannya? Ga harus dengan mencalonkan diri kok. Ga harus terjun langsung memperbaiki negara yang katanya bobrok ini karena sepertinya kami emang belum siap. Para pemilih pemula seperti saya mendapatkan hak utk memilih para calon yg diharapkan amanah utk perbaiki negara yang katanya bobrok ini. Hak lho ya. Kapan lagi diberi keistimewaan seperti ini: memilih calon legislatif tuk bisa mengatasi negeri 5 tahun ke depan.

"Aduh, ngapain lah milih mereka yang ga jelas. Nanti pada korupsi."
Bagaimana caranya agar mereka jadi jelas di mata kita sbg pemilih? Tentu kita sendirilah yang harus mengenal mereka. Kan ada masa kampanye, masa mereka mengenalkan diri pada kita . Pengenalan dirinya kurang? Gadget di tanganmu sepertinya cukup canggih utk mengakses biografi para calon.

"Ga sempatlah itu kepoin mereka."
Oke oke, jujur saya juga ga banyak sempatkan diri utk mengenali para caleg. Tp kita masing-masing punya orang yg kita percaya utk konsultasi kan? Orang yg sudah berpengalaman tentu saja. Siapa lagi kalau bukan orang tua sendiri. Jujur, sbg pemilih pemula, pilihan saya bnyak dipengaruhi oleh opini orngtua. Karena ya kalau emang kita g percaya lagi dengan opini publik, masa' kita ga percaya sama orang tua kita sendiri?

"Weey ortu gue golput!! Mau ape lo? Gapapa dong gue ikutan. Gue kan percaya ortu gue"
Wah sayang ya, keistimewaan teman-teman dan ortu bs melayang begitu saja sbg pemilih kalau emang memutuskan sekeluarga utk golput. Sekali lagi, menjadi pemilih itu merupakan keistimewaan. Di tangan kita lah negeri ini menumpukan harapannya. Menjadikan negeri ini lebih baik tidak bisa dgn berdiam diri. Kalau kita yang baik pada diam, yang kurang baiklah yang akan berkuasa. Jadilah negeri ini diatur oleh mereka yang memang kurang bs dipercaya. Muncullah korupsi dan kawan-kawannya. Ngeri juga kan kalau udah kaya gitu.

"Yauda sih. Cuma gue doang yg ga milib. 1 suara doang"
1 orang berpikiran seperi itu, maka hilang 1 suara, maka bisa jadi 1 org yg kurang bs dipercaya lah yg lebih berkesempatan memimpin negeri.
Masalahnya, yg berpikran seperti itu kan banyaaak. Ga kamu doang. Ngeri lah ya.

Last, hancurnya keadaan bukan karena bertindaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.

Yak. Ditunggu kelingking ungu nya di pemilihan mendatang :D inshaa ALLAH pilihan kita yang terbaik kalau kita mengupayakan menjadi pemilih cerdas.

Salam #JariuntukIndonesia